1. Struktur Navigasi


2. Flowchart
3. Rancangan Interface
>Layar Menu

>Layar Kamus Indonesia-Inggris

4. Hasil Output





2. Flowchart
3. Rancangan Interface
>Layar Menu

>Layar Kamus Indonesia-Inggris




Sistem terdistribusi adalah sekumpulan prosesor yang tidak saling berbagi memori atau clock dan terhubung melalui jaringan komunikasi yang bervariasi, yaitu melalui Local Area Network ataupun melalui Wide Area Network. Prosesor dalam sistem terdistribusi bervariasi, dapat berupa small microprocessor, workstation, minicomputer, dan lain sebagainya. Berikut adalah ilustrasi struktur sistem terdistribusi:
Karakteristik sistem terdistribusi adalah sebagai berikut:
1. Concurrency of components.
- Pengaksesan suatu komponen/sumber daya (segala hal yang dapat digunakan bersama dalam jaringan komputer, meliputi H/W dan S/W) secara bersamaan. pemakai browser mengakses halaman web secara bersaman.
– Setiap komponen hardware/software bersifat otonom (kita akan menyebut komponenKarakteristik Sistem Terdistribusi
Apa saja karakteristik yang dimiliki oleh sistem terdistribusi? Sistem terdistribusi memiliki karakteristik concurrency, tidak ada(keterbatasan) Global Clock dan kegagalan independent. Lengkapnya akan saya jelaskan dibawah ini:
Yang dimaksud dengan concurrency (sistem atau program yang berjalan bersama-sama) disini adalah suatu karakteristik yang dimiliki oleh sistem terdistribusi dimana sifatnya setiap komputer/aplikasi dapat melakukan pekerjaan masing-masing tanpa terjadi konflik diantaranya. Hal yang wajar apabila proses eksekusi program harus berjalan secara konkuren. Melakukan koordinasi konkurensi terkadang diperlukan juga untuk mengatur layanan seperti file sharing.
Setiap komputer memiliki clock yang berbeda dalam sistem terdistribusi. Agar tidak terjadi konflik maka diperlukan koordinasi agar tidak terjadi konflik clock antar komputer. Saat program membutuhkan koordinasi antarkomputer, dilakukan proses pertukaran pesan antarkomputer.
Komputer/sistem dapat mengalami kegagalan atau kerusakan. Akan sangat merepotkan apabila kerusakan pada 1 komputer atau 1 sistem akan mempengaruhi semua komputer/sistem. Oleh karena itu apabila terdapat komponen yang rusak atau gagal, kerusakan tidak meyebar ke komponen lainnya. Hal ini juga menyebabkan adanya kegagalan proses tunggal yang bisa tidak diketahui.
Sumber : http://sitialiyah.staff.gunadarma.ac.id/
Elemen-elemen dari bauran pemasaran sering disebut sebagai "Empat 'P", suatu istilah yang digunakan sejak tahun 1960-an
§ Produk Ini adalah baik nyata atau layanan tidak berwujud yang diproduksi dalam skala besar dengan volume spesifik unit.
§ Harga adalah jumlah pelanggan membayar untuk produk. Bisnis dapat meningkatkan atau menurunkan harga produk jika toko lain memiliki produk yang sama.
§ Promosi mewakili semua komunikasi yang dapat digunakan pedagang di pasar. Promosi memiliki empat elemen yang berbeda: iklan, public relation, personal selling dan promosi penjualan . Sebuah jumlah tertentu crossover terjadi ketika promosi menggunakan empat elemen utama bersama-sama, yang umum dalam promosi film. Iklan mencakup komunikasi yang dibayar, dari iklan bioskop, radio dan iklan internet melalui media cetak dan billboard. Public relations adalah di mana komunikasi tidak langsung dibayar dan termasuk siaran pers, kesepakatan sponsor, pameran, konferensi, seminar atau pameran perdagangan dan peristiwa. Dari mulut ke mulut adalah setiap komunikasi yang tampaknya informal tentang produk oleh individu biasa, pelanggan yang puas atau orang khusus yang terlibat untuk menciptakan momentum firman mulut. Penjualan staf sering memainkan peran penting dalam mulut ke mulut dan Hubungan Masyarakat (lihat Produk di atas).
§ Tempat – Lokasi penjualan yang strategis.





TANGGUNG jawab sosial perusahaan atau CSR (corporate social responsibility) kini jadi frasa yang semakin populer dan marak diterapkan perusahaan di berbagai belahan dunia. Menguatnya terpaan prinsip good corporate governance seperti fairness, transparency, accountability, dan responsibility telah mendorong CSR semakin menyentuh “jantung hati” dunia bisnis.
Di tanah air, debut CSR semakin menguat terutama setelah dinyatakan dengan tegas dalam UU PT No. 40 Tahun 2007 yang belum lama ini disahkan DPR. Disebutkan bahwa PT yang menjalankan usaha di bidang dan/atau bersangkutan dengan sumber daya alam wajib menjalankan tanggung jawab sosial dan lingkungan (Pasal 74 ayat 1).
Namun, UU PT tidak menyebutkan secara terperinci berapa besaran biaya yang harus dikeluarkan perusahaan untuk CSR serta sanksi bagi yang melanggar. Pada ayat 2, 3, dan 4 hanya disebutkan bahwa CSR “dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memerhatikan kepatutan dan kewajaran.” PT yang tidak melakukan CSR dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan. Ketentuan lebih lanjut mengenai CSR ini baru akan diatur oleh peraturan pemerintah yang hingga kini belum dikeluarkan.
Akibatnya, standar operasional mengenai bagaimana menjalankan dan mengevaluasi kegiatan CSR masih diselimuti kabut misteri. Selain sulit diaudit, CSR juga menjadi program sosial yang “berwayuh” wajah dan mengandung banyak bias.
Banyak perusahaan yang hanya membagikan sembako atau melakukan sunatan massal setahun sekali telah merasa melakukan CSR. Tidak sedikit perusahaan yang menjalankan CSR berdasarkan copy-paste design atau sekadar “menghabiskan” anggaran. Karena aspirasi dan kebutuhan masyarakat kurang diperhatikan, beberapa program CSR di satu wilayah menjadi seragam dan seringkali tumpang tindih.
Walhasil, alih-alih memberdayakan masyarakat, CSR malah berubah menjadi Candu (menimbulkan kebergantungan pada masyarakat), Sandera (menjadi alat masyarakat memeras perusahaan), dan Racun (merusak perusahaan dan masyarakat).
Sejarah singkat
Pengertian CSR sangat beragam. Intinya, CSR adalah operasi bisnis yang berkomitmen tidak hanya untuk meningkatkan keuntungan perusahaan secara finansial, tetapi untuk pembangunan sosial-ekonomi kawasan secara holistik, melembaga, dan berkelanjutan. Beberapa nama lain yang memiliki kemiripan dan bahkan sering diidentikkan dengan CSR adalah corporate giving, corporate philanthropy, corporate community relations, dan community development.
Ditinjau dari motivasinya, keempat nama itu bisa dimaknai sebagai dimensi atau pendekatan CSR. Jika corporate giving bermotif amal atau charity, corporate philanthropy bermotif kemanusiaan dan corporate community relations bernapaskan tebar pesona, community development lebih bernuansa pemberdayaan.
Referensi :